Kab Mandailing Natal, Mempunyai Potensi Wisata yang Kaya
Letak Madina di kawasan pegunungan Bukit Barisan membuat daerah paling selatan Sumut itu indah dipandang mata, sehingga sangat potensial untuk pengembangan objek pariwisata. Selain alam yang indah untuk wisata hutan, wisata gunung dan wisata air, kabupaten yang baru berusia 9 tahun itu juga dikaruniai benda-benda dan tempat-tempat bersejarah, di samping kesenian/budaya rakyat setempat. Hal ini tentunya sangat mendukung bagi pengembangan objek wisata, namun disayangkan hingga saat ini belum terkelola dengan baik. Dari catatan penulis yang langsung memantau dan juga mengumpulkan beberapa informasi mengenai objek wisata di Kabupaten Madina, wisatawan domestik dan mancanegara (dalam dan luar negeri) tidak termasuk dari Madina, belumlah banyak berkunjung ke Madina. Orang bule baru satu-satu kelihatan, terkecuali pada hari-hari tertentu ada puluhan turis asing datang dari Sipirok, yang merupakan kiriman dari Parapat dan Berastagi. Mereka (turis asing-red) bukan bermalam di Madina, tapi hanya singgah beberapa saat sebelum melanjutkan perjalanannya ke Kota Bukit Tinggi, Sumbar. Pesona wisata Dari segi panorama alam, suasana objek wisata di Madina masih jauh berbeda dengan kawasan Parapat (Danau Toba), Berastagi bahkan Bukit Lawang di Kabupaten Langkat. Di kawasan tersebut turis mancanegara banyak dijumpai. Namun tidak demikian halnya dengan Madina yang menyimpan banyak potensi wisata yang terpendam namun belum dikelola secara maksimal. Jika potensi tersebut dikelola dengan baik tentu akan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan peningkatan taraf hidup masyarakat. Dalam brosur pariwisata yang dikeluarkan bagian pariwisata Pemkab Madina, tercantum beberapa pesona wisata yang dipromosikan untuk turis asing dan sisi lain yang berhubungan dengan pariwisata serta aktivitas perjalanan. Pesona wisata yang dipromosikan antara lain meliputi Bendungan Batang Gadis, Air Panas Siabu, Gordang Sambilan, Bagas dan Sopo Godang, Sopotinjak, Lubuk Larangan, Danau Siombun, Danau Marambe, Danau Saba Baru, Gunung Sorik Marapi, Sibanggor, Cerita Rakyat Sampuraga, Muarasipongi. Kemudian Taman Nasional Batang Gadis (TNBG), Pantai Natal, Pantai Sikara-kara, Sumur Besar Multatuli, Pulau Ungeh, Ponpes Mustafawiyah Purba Baru, Pasar Tradisional Panyabungan, Mesjid Raya Panyabungan dan Komplek Perkantoran Pemkab Madina di Perbukitan Payaloting Panyabungan. Padahal masih banyak objek wisata sejarah Madina yang dikenal masyarakat secara luas, objek tersebut tersimpan di berbagai kecamatan dan desa yang apabila dikembangkan akan menarik bagi datangnya turis domestik dan mancanegara seperti di Panyabungan dekat Desa Runding ditemukan peninggalan kebudayaan manusia dari zaman batu, yaitu peninggalan berupa menhir yang tersebar di suatu lokasi hutan kawasan desa itu. Masih di Panyabungan di lokasi Padang Mardia, oleh masyarakat setempat terdapat sisa-sisa peninggalan Hindu-Budha yang berbaur dengan sisa-sisa kebudayaan zaman meganlitikum. Lalu di Pidoli Lombang, dapat dijumpai komplek percandian yang sudah runtuh dan hanya tersisa bagian pondasinya dari susunan lempengan batu bata ukuran lebar, yang sekarang dijadikan sebagai areal persawahan Saba Biara. Kemudian di Kecamatan Siabu di Desa Simangambat, di sini akan dijumpai objek wisata yang oleh masyarakat disebut yaitu bebatuan/candi sisa peninggalan umat Hindu dari abad ke-8, lebih tua tiga abad dari Candi Portibi di Tapsel. Jarak beberapa meter dari Bagas Godang Panyabungan Tonga, terdapat sebuah makam kuno yang diyakini masyarakat sebagai makam SI Baroar yaitu nenek moyang yang menurunkan marga Nasution di Mandailing. Selanjutnya untuk wisatawan yang hobi hutan ilalang di Lembah Tor Sihite yang di bawahnya mengalir Sungai Batang Gadis menuju Bendungan Irigasi Batang Gadis sangat menarik untuk dijadikan objek wisata. Kemudian Aek Namilas tempat pengolahan belerang di Batang Natal, Brankas dan Meriam peninggalan Inggris dan Benteng Portugis di Natal, Bangunan peninggalan Belanda berupa Pesanggerahan di Kotanopan, gua-gua alam di Pastap. Tidak kalah menariknya desa-desa yang memiliki karakteristik khas kebudayaan Mandailing seperti Desa Maga, Singengu, Manambin, Hutapungkut, Hutagodang, Botung dan Tobang di Kotanopan dengan peninggalan Bagas Godangnya, budaya khas masyarakat Ulu di Muarasipongi dan Pakantan sebagai daerah yang banyak menyimpan khasanah tradisi Mandailing. Itulah sebagian dari objek-objek wisata terpendam yang potensial dikembangkan di Kabupaten Madina, namun belum terkelola dan terjamah dengan baik. Sejumlah fenomena yang dihadapi dunia kepariwisataan di Madina merupakan tantangan yang harus dihadapi dan harus segera diselesaikan, jika Kabupaten Madina ingin memperoleh peluang. Peluang itu bukan tidak mungkin dapat dicapai, mengingat Kabupaten Madina mempunyai potensi ke arah tersebut. Masalahnya sekarang terpulang kepada semua stakeholder di Madina, keberhasilan Madina sebagai daerah persinggahan para turis tergantung dari kemampuan mengatasi semua kendala dan permasalahan, menjadi satu peluang yang sangat menguntungkan. Menguntungkan bukan saja meningkatnya PAD Madina tapi juga taraf hidup masyarakat. (d)Oleh : Hadiansyah Panjaitan ST, Sumber : SIB
Kabupaten Mandailing Natal (Madina) adalah salah satu kabupaten yang terletak di kawasan paling ujung Pantai Barat Provinsi Sumut dengan ibukotanya Panyabungan sebagai pusat pemerintahan. Kabupaten Madina yang secara formal diresmikan Menteri Dalam Negeri tanggal 9 Maret 1999, terbentuk berdasarkan UU Nomor 12/1998. Dalam usia yang tergolong relatif masih muda sebagai kabupaten baru, Kabupaten Madina di bawah polesan Bupati H. Amru Daulay SH terus berbenah untuk mengejar ketertinggalannya dari kabupaten lain di Sumut, bahkan secara jujur diakui banyak kalangan kemajuannya melebihi kabupaten induknya yaitu Tapsel.
Madina yang sering disinggahi karena telah dikenal dan menarik hanyalah Ponpes Mustafawiyah Purba Baru di Kecamatan Lembah Sorik Marapi. Para turis mancanegara tertarik melihat keberadaan gubuk-gubuk kecil berukuran 1,5 x 2,5 meter yang berbaris di sepanjang jalan, digunakan sebagai tempat tinggal santri yang berasal dari berbagai daerah negeri ini. Keberadaan gubuk-gubuk kecil sebagai tempat santri dididik untuk hidup mandiri membuat kesan yang agak asing, dan didukung jumlah santri yang mencapai 8000 orang membuat suasana Ponpes Purba Baru menarik untuk disinggahi.











October 17th, 2008 at 23:55 pm
saya sangat setuju dengan tulisan ini. semua potensi wisata yang ada sangat beragam.. akan tetapi belum adanya usaha maksimal dari pemerintah daerah untuk memberdayakan hal ini secara tepat guna.. khususnya di kecamatan natal.. banyak peninggalan sejarah seperti benteng portugis,jepang yang tidak terurus.. bagaimana wisatawan ingin berkunjung darei segi jalur transportasi saja sudah sulit. garis pantai di pesisir barat madina menyimpan pesona tersendiri.akan tetapi kurang dipublikasikan.. sarana untuk wisatawan juga tidak memadai. semoga ada keseriusan lebih untuk kebaikan dan kemajuan mandailing natal.